MINUMAN keras tradisional Cap Tikus seakan menjadi
momok bagi aparat kepolisian yang kini lagi mengangkat trend ber-tagline
“Brenti Jo Bagate”. Polda Sulut dan jajaran memang perlu berusaha keras
membasmi penyakit mabuk dari tengah masyarakat, karena kebiasaan
menenggak Cap Tikus sejatinya sudah membudaya bagi warga Minahasa dan
Sangihe sejak 2 abad silam.
Budayawan Jessy Wenas
di blog Kerukunan Keluarga Pakasaan Remboken menulis minuman beralkohol
tinggi itu dibuat sendiri oleh petani seho dari daratan Minahasa dan
Sangir, tanpa ada campuran kimia apapun. Konon dalam legenda warga
Minahasa, menurut Jessy, diyakini Cap Tikus adalah ciptaan dewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar